http://putrisafrina26.blogspot.com/bpmps/
Pada masa prasejarah, budaya manusia secara umum ditandai
dengan ciri-ciri tertentu. Kebanyakan ciri khas itu terdapat pada peninggalan-peninggalan pada
tahapan-tahapan zaman yang mereka lewati. Menurut ahli sejarah, bahwa tahapan
budaya masyarakat prasejarah ada tiga tahapan penghidupan. Tiga tahapan itu
adalah masa berburu dan mengumpulkan makanan, masa bercocok tanam dan masa
kemahiran.
Ketiga ciri tersebut tidak ditemukan
di seluruh wilayah nusantara. Beberapa wilayah tertentu tidak memiliki
kebudayaan tertua yaitu berburu, Namun mereka memiliki tinggalan budaya yang
jauh lebih muda dan moderen. Menurut penelitian ahli sejarah daerah Banten memiliki ketiga
tahapan kebudayaan tersebut. Sayang di Banten tidak banyak sumber yang menerangkan tentang
zaman berburu tersebut. Dari bukti yang didapatkan, bahwa awal kehidupan masyarakat
prasejarah Banten bergantung pada alam untuk menghasilkan bahan makanan.
Kehidupan masyarakat Banten berpindah-pindah dan sangat sederhana, bahan
makanan mereka dapatkan langsung dari alam. Termasuk alat-alat (perkakas) yang mereka pakai, langsung yang
bersentuhan dari alam. Kebanyakan mereka menggunakan media batu dan
tulang-tulang binatang hasil dari berburu. Namun sayang para ahli sejarah
sangat sulit membedakan dengan benda bentukan dan yang terbentuk secara
alamiah. Lantas muncul kesimpulan bahwa produk kebudayaan itu adalah alat-alat
dari batu yang disebut paleolitik. Seperti kapak perimbas(chopper), kapak
penetak(chopping tool), serut genggam(scrapper), pahat genggam(hand adze), dan
kapak genggam awal(proto hand axe).
Di Pandeglang para peneliti telah banyak menemukan
jenis-jenis peninggalan budaya tersebut. Bahkan ada peninggalan budaya yang
lebih eksotis berupa lukisan gua di Syanghiyang Sirah, Ujung Kulon. Hal itu
menjadi bukti bahwa masyarakat prasejarah hidup di gua-gua. Dan masa itu adalah
saat penghujung masa berburu dan mengumpulkan makanan, walaupun masih ada indikasi mereka hidup
berpindah-pindah. Mereka lebih cenderung hidup di gua yang dekat dengan aliran
sungai yang bahan makanan lebih banyak, seperti ikan, kerang dan siput.
Beberapa dekade selanjutnya setelah mereka merasa enak hidup di
gua-gua mulailah dengan masa kebudayaan bercocok tanam. Pada masa itu, masyarakat
prasejarah sudah lebih mahir dari sebelumnya, mereka sudah bisa mengasah
peralatan mereka untuk bercocok tanam. Alat-alat yang pada umumnya mereka asah
dan mereka gunakan adalah beliung, kapak batu, bahkan mata tombak dan panah
juga sudah mulai digunakan. Seiring perkembangan mereka juga telah menghasilkan
alat pemukul kayu juga perhiasan. Hasil dari penelitian sebagai bukti kemajuan
masyrakat pada masa itu adalah, telah ditemukannya alat penyimpanan makanan
yang terbuat dari tanah liat. Lantas oleh para peneliti diasumsikan sebagai
zaman budaya gerabah. Seiring dengan zaman itu, muncullah kepercayaan adanya
kekuatan di luar manusia. Akhirnya berkembanglah budaya animisme dan dinanisme.
Hal itu mengawali masa penghormatan kepada orang-orang yang mereka anggap
berjasa(pahlawan), hingga mulai dibangunnya monument dari batu sebagai
penghormatan. Lantas monument itu menjadi media untuk pemujaan, atau disebut
sebagai prosesi megalitik dan tardisi lainnya. Lantas para peneliti manganggap
bahwa bentuk peninggalan pada zaman bercocok tanam sebagai budaya neolitik.
Jauh setelah zaman prasejarah, tepatnya pada tahun 1980, di
kampung Odel, Desa Kasunyatan sekitar 2 km sebelah selatan dari masjid Agung
Banten ditemukan peninggalan zaman prasejarah. Benda-benda itu seperti beliung,
gerabah, alat serpih, bilah dan lain sebagainya. Kemudian di daerah Tangerang,
Cileduk juga ditemukan bukti-bukti yang lain.
Setelah masa bercocok tanam terlewati atau juga disebut
zaman neolitik, masuklah zaman megalitik. Para ahli menafsirkan bahwa budaya
ini masuk ke Indonesia dengan dua gelombang besar. Untuk yang pertama disebut
gelombang megalitik tua, yang diperkirakan masuk ke Indonesia sekitar
2.500-1.500 tahun sebelum masehi. Hal itu ditandai dengan banyaknya pendirian
monument-monument dari batu, seperti menhir, undak batu dan patung-patung
simbolis_monumental. Lantas gelombang kedua disebut megalitik muda, yang oleh
para peneliti diperkirakan masuk ke Indonesia sekitar awal abad pertama sebelum
masehi. Sebagai peninggalan zaman ini adalah monument kubur peti batu, dolmen
semu dan sarkofagus.
Di daerah Banten, peninggalan zaman ini terdapat di Serang,
Pandegelang dan Lebak. Di Pandegelang dan Serang banyak ditemukan menhir,
dolmen, batu gong, altar batu, batu bergores dan arca tipe Polinesia. Di Lebak
pun demikian, banyak ditemukan peninggalan seperti di dua kabupataen tersebut.
Bahkan juga ditemukan jenis punden berundak, Lebak Cibedug, Kosala dan punden
Arca Domas.
Lebak Cibedug sampai sekarang masih bisa dijumpai di tanah
perbukitan hutan lindung Taman Nasional Gunung Halimun. Yaitu berupa bangunan
teras berundak disusun dari batu kali dan berorientasi barat timur. Bangunan
peninggalan ini terdiri dari tiga bangunan berteras, yaitu halaman depan,
halaman tengah dan halaman belakang(bangunan inti). Namun keseluruhan berjumlah
sebelas teras.
Lebak Cibedug mempunyai ciri kehidupan yang terlihat dari lingga yang
selama ini lebih dikenal sebagai menhir. Dan lingga itu tertancap di sungai
Ciledug. Hal itu sebagai bukti bahwa pada zaman itu manusia prasejarah lebih
cenderung hidup di dekat sungai. Di luar komplek itu, banyak juga ditemukan
peninggalan zaman megalitik. Kebanyakan adalah menhir dan punden berundak, hal
itu menjadikan bukti lahwa
masyarakat prasejarah sudah mengalami kemajuan yang pesat.
Yang paling fenomenal, komplek Lebak Ciledug sampai sekarang
masih dikeramatkan masyarakat yang mayoritas memeluk agama islam. Dalam
kaitannya sebagai budaya peninggalan prasejarah sampai saat ini masih selalu
dilakukan upacara yang dipimpim ketua adat “Abah Kolot”. Upacara yang mempunyai
tujuan untuk memohon restu kepada leluhur supaya diberikan panen yang melimpah
dan bebas dari gangguan hama. Itu menjadikan bukti peninggalan zaman megalitik.
Untuk menyimpan hasil panen, pada zaman itu masyarakat
memasuki zaman gerabah. Mereka membuat tampat penyimpanan dengan membuat
gerabah dari tanah liat. Namun karena pengetahuan masih minim gerabah pada
zaman megalitik umumnya masih sangat rapuh. Mereka membuat gerabah tanpa alat
bantu, pemanasan atau pembakaran pun hanya dengan suhu yang rendah. Hal itu
yang mengakibatkan kualitas gerabah kurang baik. Dan penemuan gerabah paling
tua terdapat di daerah Tangerang Banten.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar